AKU
TERLUKA KARENANYA….
(Sebuah prosa dipersembahkan untuk
para saudara muda)
Dia telah melukaiku,
perasaanku dilemma oleh karena tingkahnya yang konyol dan membeo itu. Entah
dimana peran hati nuraninya, juga bagaimana perasaannya ketika dia diperlakukan
sama seperti yang dilakukan terhadapku. Dari hati yang mendalam semenjak aku
melihat peristiwa itu sejujurnya hati ini tak mampu mengatakan sesuatupun. Aku
kaget dan sedih bercampur kecewa, terasa hatiku dilukai lagi dengan
ketidaktahuannya tentang sesuatu hal yang penting baginya untuk diketahui.
Sungguh dia melukai
perasaanku, kesombongan dan kebodohannya itu semakin kubertanya dalam hati: “
benarkah dia mencintai DIA yang memanggilnya”?, bagaimana cara dia dalam menghayati berelasi? Semenjak
aku mengenalnya, aku sejujurnya sudah tidak suka dengannya. Aku tidak suka
caranya bersikap, caranya bertutur kata. Dia terkadang aneh, selalu menyendiri
dan Nampak ketika peristiwa sore ini meyakinkanku bahwa dia memang kurang
waras. Cara dia bertindak menunjukan bahwa dia belum paham apa arti sebuah
kehidupan. Kehidupan yang butuh kerja keras, kehidupan yang butuh cinta dan mau
menghargai serta kehidupan yang selalu membawa nuansa kehidupan itu sendiri.
Kehidupan yang dia jalani
dan hayati selama ini hanyalah sebuah symbol bahwa dia memang hidup, tetapi
untuk menuju pada pemaknaan dan arti kehidupan itu yang sesungguhnya belum
sampai kesana. Arah hidupnya masih perlu ditopang dengan cara santun. bukan
dengan cara sebagaimana cara dia melukai sesamanya. Sungguh bahwa aku tidak
punya harapan lagi karenanya, pada hal aku masih dibutuhkan oleh orang yang
membutuhkannya.
Sayang seribu sayang tak
kunjung henti untuk mengubahnya, telah banyak cara agar dia mau berubah dari
sikapnya yang membeo itu, memang aku tahu hanya dia sendiri yang mampu mengubah
dirinya jika ia mau berubah, namun setidaknya dia harus belajar “mendengarkan”. Pendengarn dan mata jadi
satu. Kalau matanya tidak mampu melihat hal-hal yang kecil dan berharga, pasti
telinga ikut terpengaruh untuk tidak mendengar apa-apa ketika ada orang lain
menegurnya.
Terasa sekali sakitnya
hati ini, bukan hanya kepada dia yang sungguh terlukai, namun saya juga dan
teman-teman lain yang melihtnya pasti kecewa dan sedih. Dengan perasaan seperti
ini muncul pertanyaan dalam hati “ kenapa dia melakukan itu”? kenapa secepat
itu dia memberi tindakan seperti itu? Tanpa berpikirkan dia sebelum melakukan? Peristiwa
yang konyol itu menandakan bahwa dia kurang berpengetahuan, kurang berefleksi
dan kurang berdiscernment.
Seandainya dia tahu
bagaimana sulitnya mencari nafkah, beratnya meraup sesuap nasi, dan
seteguk teh manis, panasnya terik
matahari di siang bolong, tanpa ada istirahat siang, yang ada hanya alat kerja berupa
pacul, linggis, tofa, dan bahkan bila kerja di bengkel kayu yang dijumpai
setiap hari hanya alat pemotong kayu, pahat, palu, dll. Lalu kalau di bengkel
otomotif yang dijumpai hanya oli kotor, obeng, maur/baut dan masih banyak alat
lain yang butuh perhatian dan ketelitian. Kalau dia sadar akan hal ini Pasti
dia tidak melakukan tindakan sekonyol itu. Namun karena ketidaktahuannya itu
dan karena minimnya dia merefleksikan tentang sesuatu hal, maka akibatnya fatal
seperti ini. Yang rugi bukan hanya saya tetapi juga orang lain yang melihat dan
mengetahui peristiwa itu.
Aku memang kurang
sempurna, namun aku sadar bahwa tindakannya dia itu membuat kacau semuanya.
Perasaan ini serasa ada debu halus masuk ke mata yang membuat segala sesuatu
sulit untuk dilihat, tak mampu lagi melihat sesuatu yang indah dihadapanku.
Yang seharusnya indah lantas menjadi kabur tak karu-karuan. Engkau, dimanakah
hatimu saat engkau melakukan tindakan sekonyol itu. Masihkah ada cerita indah
dikala ada rindu yang mendalam? Rindu ingin berjumpa lagi dengannya, tatkala
ada kenangan yang tak bisa kulupakan, namun kerinduan itu telah terbawa EGO dan
keangkuhan oleh karena ulahnya yang konyol itu.
Kisah kasih bersamanya
harus berakhir sampai disini, tak ada kata tidak untuk memberi alasan agar
tetap menjaga eksistensinya. Pupus harapan untuk melanjutkan kisah indah
bersamanya, dia tak mampu lagi memberi harapan yang berarti bagiku dan bagi
sesama. Nilai moralnya tak ada lagi, cintanya yang dulu membara, kini menjadi
beku dan kaku yang membuat orang menjadi berat dan sulit mengisi kembali ruang
hatinya. Aku tidak tahu apakah ada harapan lagi untuk ada bersamanya, rupanya
harapan hanya tinggal harapan kerinduan hanya tinggal kerinduan. Yang ada hanya
ada kata benci dan marah, kecewa dan malu, sebab dia telah melukaiku dan
membuatku menjadi kurang percaya diri lagi. Aku terasa ada dalam situasi yang
mengacaukan, rupaku tak lagi serupa dulu, kemolekan wajahnya kini pupus
termakan benci yang mendalam. Keindahan yang menghalaukan mata banyak orang,
kini menjadi hancur berantakan. Tak ada harapan lagi, tak ada cinta, tak ada
rindu apalagi berjumpa lagi. Yang ada hanyalah benci dan marah.
Pi ..mi……aku ingin
pulang, perasaan ini tak sanggup lagi menahannya. Aku terlanjur terluka oleh
tindakannya yang konyol itu, sulit untuk kumaafkan perbuatannya. Terasa berat
dan sulit kulupakan, karena ini menyangkut masa depanku. Masa depan yang
seharusnya selalu cerah, kini terkubur oleh hinaan dan cercaannya yang menyakitkan.
“belajarlah untuk mendengarkan”
“terinspirasi dari salah seorang
saudara muda yang membuang ikan Pindang di tempat sampah”
Br.Libert, CSA
Dalam keheningan dan pergulatan
06-05-12
RSS Feed
Twitter
19.49
Libert CSA
Posted in
0 komentar:
Posting Komentar