Sabtu, 08 Juni 2013



ADA  PERHATIAN  ADA CINTA  MENJADI  SEMAKIN  SETIA
Sebuah pengalaman iman – Live in COR UNUM, 23-25 Maret 2012
Br. Libert, CSA



Long week end kali ini memberi harapan dan nilai baru bagiku dan bagi teman-temanku. Cor Unum yang adalah  sebuah persekutuan  dengan semangat hati kudus menjadi sebuah jalan dalam menemukan sang sumber cinta. Tiga hari dan dua malam kami anggota Live in ingin merasakan anugerah Tuhan lewat umat Allah yang berada di Paroki Boro, secara khusus umat Allah di stasi Samigaluh. Banyak pengalaman dan peristiwa yang menggugah hatiku untuk semakin memuliakan-Nya. Kami sadar bahwa selama ini kami hanya ingin hidup di tengah situasi yang ramai, nyaman dan tidak mengenal lagi apa artinya hidup sosial dan kemasyarakatan. Lingkungan biara kadang membuat kami jenuh, malas dan kurang bersosialisasi, kerap menjadi sebuah batu sandungan. Dengan kesadaran ini, COR UNUM mengadakan suatu kegiatan yang lazim diadakan oleh para religius lainnya, yakni mengadakan live in di suatu tempat yang dirasa terisolir dalam artian tempat, tetapi kehidupan kemasyarakatan dan kehidupan doa patut di acungi jempol.
Para religius dalam kehidupan doa kadang hanya karena aturan biara/komunitas yang berlaku tanpa dibarengi dengan kekedalaman Hati. Doa kadang sebagai kewajiban, bukan sebagai kebutuhan. Dikatakan berdoa, apabila ada perwujudan dari doa itu sendiri. Entah melalui karya yang diembankan setiap orang, entah lewat kehidupan bermasyarakat yang rukun, damai dan sejahtera maupun melalui kegiatan-kegiatan lain yang menunjukan ada nilai imannya. ” Iman tanpa perbuatan adalah mati”. Pengalaman tiga hari dan dua malam di Stasi Samigaluh-Kulon progo ini, sungguh saya menemukan cinta dan kedamaian. Doa sungguh menjadi sebuah kebutuhan, bukan sekedar kewajiban. Nyatanya umat disini begitu rukun, damai dan sejahtera. Mereka juga tidak memandang SARA. Sungguh tempat yang sejuk dan damai ini memberi harapan baru untuk semakin mencintai dan setia dengan apa yang menjadi pilihan hidupku.
Bersama sekeluarga yang taat pada ajaran Khatolik, saya semakin diteguhkan dan tegar dalam menjalani hari-hari hidup kedepannya. Saya disadarkan apa arti sebuah “kehidupan”. Ketidak pastian hidup sehari-hati akhirnya menemukan titik terang yang menunjukan bahwa sesungguhnya kehidupan itu ada pada diri pribadi yang menjalaninya. Hidup itu baru akan  berarti bila setiap orang mampu memaknai setiap peristiwa hidup, apapun tantangan dan cobaannya. Adanya tantangan dan cobaan justru karena ingin mengasah kehidupan itu sendiri. Apakah hidupku berarti bagi yang lain, tergantung motivasi yang muncul dari dalam diri, bukan dari luar diri. Keterbukaan dan kejujuran juga menjadi sebuah nilai yang sangat berarti dalam menentukan indah dan bahagianya hidup itu sendiri. Semakin kita terbuka dengan situasi dimana kita berada, semakin kita diterima dan dihormati oleh situasi dimana kita tinggal. Hal  demikianlah yang saya rasakan dan praktekan selama menjalani live in di Samigaluh ini. Stasi Samigaluh yang dihiasi dengan indahnya gunung Widosari telah mengajarkanku arti sebuah kerendahan hati dan semakin mencintai panggilan. Kerinduan akan sang sumber CINTA mulai terobati.
Sang sumber cinta yang adalah Tuhan sendiri telah menunjukan jalan bagiku. Jalan yang saya tempuh selama live in di Samigaluh tentu tidak sebanding dengan jalan yang dilalui-Nya menuju puncak Kalvari. Terlalu mudah bagiku untuk dilaluinya, apalagi dengan kendaraan bermotor yang tidak lazim dipakai pada Zaman-Nya. Sungguh berjalan tanpa beralaskan kaki. Tuhan menuju ke Puncak terjanji hanya beralaskan CINTA dan KORBAN bagi dunia yang menantinya. Cinta dan Korban adalah dua kata yang harus dimiliki oleh setiap pribadi yang percaya pada sang sumber CINTA itu sendiri, sebab DIA sendiri pun telah memperoleh Cinta dan pengorbanan itu. Satu minggu lagi, bahkan setiap saat kita selalu menemukan Cinta itu, lewat tugas dan aktifitas kita setiap hari.
Kebersamaan dengan umat di Samigaluh, terlebih umat di Lingkungan Carolus, secara khusus pula di rumah Bapak Kamijo sekeluarga, sungguh saya merasakan CINTA itu. Cinta itu wujud dalam karya dan pelayanan yang nyata, bukan OMDO (omong doang). Saya merasakan ada perhatian, berkat dan dukungan dari keluarga disana. Perhatian dan berkat itulah yang akan membuat hidup ini semakin berarti. Panggilan yang khusus ini rasanya semakin kuat untuk menjalaninya. Sang sumber CINTA telah menghadirkan di hatiku sebuah rahmat lewat keluarga yang saya tempati selama live in.
Pengalaman iman dan tantangan dalam mewujudkan iman dari keluarga ini sungguh menjadi bagian untuk saya renungkan dan saya refleksikan selalu, bahwa hidup itu memang sebuah misteri. Kita/saya tentu tidak mengerti isi hati Tuhan. Manusia boleh memilih tetapi Tuhan yang menentukan. Cara Tuhan menyapa manusia kadang membingungkan. Membingungkan bagi mereka yang kurang beriman pada-Nya. Kalaupun beriman mungkin karena terpaksa, bukan dari dalam hati yang tulus. “Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah”. Pesan Tuhan ini kiranya menjadi sebuah gambaran  bagi orang yang sungguh percaya pada-Nya.
Pengalaman live ini di paroki Boro ini menjadi bagian untuk semakin mantap memandang dan menyambut masa depan yang cerah. Ada cinta karena ada damai, karena ada damai maka terbentuklah cinta. Cinta akhirnya butuh pengorbanan, sehingga terciptalah kedamaian hati dan semakin memuliakan DIA yang mengutusku. Sebab Dialah sang sumber CINTA itu. “ ada perhatian ada cinta menjadi semakin setia”. Terima kasih Tuhanku…I shall always Trust and love You.


0 komentar:

Posting Komentar