ADA
PERHATIAN ADA CINTA MENJADI
SEMAKIN SETIA
Sebuah pengalaman iman – Live in COR UNUM, 23-25 Maret 2012
Br. Libert, CSA
Long
week end kali ini memberi harapan dan nilai baru bagiku dan bagi teman-temanku.
Cor Unum yang adalah sebuah
persekutuan dengan semangat hati kudus menjadi
sebuah jalan dalam menemukan sang sumber cinta. Tiga hari dan dua malam kami
anggota Live in ingin merasakan anugerah Tuhan lewat umat Allah yang berada di
Paroki Boro, secara khusus umat Allah di stasi Samigaluh. Banyak pengalaman dan
peristiwa yang menggugah hatiku untuk semakin memuliakan-Nya. Kami sadar bahwa
selama ini kami hanya ingin hidup di tengah situasi yang ramai, nyaman dan
tidak mengenal lagi apa artinya hidup sosial dan kemasyarakatan. Lingkungan
biara kadang membuat kami jenuh, malas dan kurang bersosialisasi, kerap menjadi
sebuah batu sandungan. Dengan kesadaran ini, COR UNUM mengadakan suatu kegiatan
yang lazim diadakan oleh para religius lainnya, yakni mengadakan live in di
suatu tempat yang dirasa terisolir dalam artian tempat, tetapi kehidupan
kemasyarakatan dan kehidupan doa patut di acungi jempol.
Para
religius dalam kehidupan doa kadang hanya karena aturan biara/komunitas yang
berlaku tanpa dibarengi dengan kekedalaman Hati. Doa kadang sebagai kewajiban,
bukan sebagai kebutuhan. Dikatakan berdoa, apabila ada perwujudan dari doa itu
sendiri. Entah melalui karya yang diembankan setiap orang, entah lewat
kehidupan bermasyarakat yang rukun, damai dan sejahtera maupun melalui
kegiatan-kegiatan lain yang menunjukan ada nilai imannya. ” Iman tanpa
perbuatan adalah mati”. Pengalaman tiga hari dan dua malam di Stasi
Samigaluh-Kulon progo ini, sungguh saya menemukan cinta dan kedamaian. Doa
sungguh menjadi sebuah kebutuhan, bukan sekedar kewajiban. Nyatanya umat disini
begitu rukun, damai dan sejahtera. Mereka juga tidak memandang SARA. Sungguh
tempat yang sejuk dan damai ini memberi harapan baru untuk semakin mencintai
dan setia dengan apa yang menjadi pilihan hidupku.
Bersama
sekeluarga yang taat pada ajaran Khatolik, saya semakin diteguhkan dan tegar
dalam menjalani hari-hari hidup kedepannya. Saya disadarkan apa arti sebuah
“kehidupan”. Ketidak pastian hidup sehari-hati akhirnya menemukan titik terang
yang menunjukan bahwa sesungguhnya kehidupan itu ada pada diri pribadi yang
menjalaninya. Hidup itu baru akan
berarti bila setiap orang mampu memaknai setiap peristiwa hidup, apapun
tantangan dan cobaannya. Adanya tantangan dan cobaan justru karena ingin
mengasah kehidupan itu sendiri. Apakah hidupku berarti bagi yang lain, tergantung
motivasi yang muncul dari dalam diri, bukan dari luar diri. Keterbukaan dan
kejujuran juga menjadi sebuah nilai yang sangat berarti dalam menentukan indah
dan bahagianya hidup itu sendiri. Semakin kita terbuka dengan situasi dimana
kita berada, semakin kita diterima dan dihormati oleh
situasi dimana kita tinggal. Hal
demikianlah yang saya rasakan dan praktekan selama menjalani live in di
Samigaluh ini. Stasi Samigaluh yang dihiasi dengan indahnya gunung Widosari
telah mengajarkanku arti sebuah kerendahan hati dan semakin mencintai
panggilan. Kerinduan akan sang sumber CINTA mulai terobati.
Sang
sumber cinta yang adalah Tuhan sendiri telah menunjukan jalan bagiku. Jalan
yang saya tempuh selama live in di Samigaluh tentu tidak sebanding dengan jalan
yang dilalui-Nya menuju puncak Kalvari. Terlalu mudah bagiku untuk dilaluinya,
apalagi dengan kendaraan bermotor yang tidak lazim dipakai pada Zaman-Nya.
Sungguh berjalan tanpa beralaskan kaki. Tuhan menuju ke Puncak terjanji hanya
beralaskan CINTA dan KORBAN bagi dunia yang menantinya. Cinta dan Korban adalah
dua kata yang harus dimiliki oleh setiap pribadi yang percaya pada sang sumber
CINTA itu sendiri, sebab DIA sendiri pun telah memperoleh Cinta dan pengorbanan
itu. Satu minggu lagi, bahkan setiap saat kita selalu menemukan Cinta itu,
lewat tugas dan aktifitas kita setiap hari.
Kebersamaan
dengan umat di Samigaluh, terlebih umat di Lingkungan Carolus, secara khusus
pula di rumah Bapak Kamijo sekeluarga, sungguh saya merasakan CINTA itu. Cinta
itu wujud dalam karya dan pelayanan yang nyata, bukan OMDO (omong doang). Saya
merasakan ada perhatian, berkat dan dukungan dari keluarga disana. Perhatian
dan berkat itulah yang akan membuat hidup ini semakin berarti. Panggilan yang
khusus ini rasanya semakin kuat untuk menjalaninya. Sang sumber CINTA telah
menghadirkan di hatiku sebuah rahmat lewat keluarga yang saya tempati selama
live in.
Pengalaman
iman dan tantangan dalam mewujudkan iman dari keluarga ini sungguh menjadi
bagian untuk saya renungkan dan saya refleksikan selalu, bahwa hidup itu memang
sebuah misteri. Kita/saya tentu tidak mengerti isi hati Tuhan. Manusia boleh
memilih tetapi Tuhan yang menentukan. Cara Tuhan menyapa manusia kadang
membingungkan. Membingungkan bagi mereka yang kurang beriman pada-Nya. Kalaupun
beriman mungkin karena terpaksa, bukan dari dalam hati yang tulus. “Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia
tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah”. Pesan Tuhan ini kiranya menjadi sebuah
gambaran bagi orang yang sungguh percaya pada-Nya.
Pengalaman
live ini di paroki Boro ini menjadi bagian untuk semakin mantap memandang dan
menyambut masa depan yang cerah. Ada cinta karena ada damai, karena ada damai
maka terbentuklah cinta. Cinta akhirnya butuh pengorbanan, sehingga terciptalah
kedamaian hati dan semakin memuliakan DIA yang mengutusku. Sebab Dialah sang
sumber CINTA itu. “ ada perhatian ada cinta menjadi semakin setia”. Terima
kasih Tuhanku…I shall always Trust and love You.
RSS Feed
Twitter
20.15
Libert CSA

Posted in
0 komentar:
Posting Komentar