This is featured post 1 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com.
This is featured post 2 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com.
This is featured post 3 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com.
Sabtu, 08 Juni 2013
20.21
Libert CSA
HARI INI
(Refleksi HUT ke-29)
Dari Kaliurang tepatnya di Wisma Maya saya
ingin menulis sedikit pengalaman kasih bersama-Nya. Saya sadar bahwa
sesungguhnya saya tidak pantas berada di sini. Saya telah mengecewakan banyak
orang, saya mungkin pernah melukai sesama, terkadang saya juga ingkar janji dan
kurang peduli dengan sesama di sekitarku. Namun kekuatan Cinta Tuhan ternyata
mengalahkan segalanya. Karena kesadaranku IA tetap setia menyertaiku. Butiran
cinta telah menggumpal bagaikan emas dan perak yang siap diolah menjadi emas
murni. Kesetiaan-Nya nyata dalam hidupku, berkat dan perlindungan-Nya sungguh saya rasakan.
Beberapa jam lagi aku ingin melewati masa-masa
hidupku yang lalu. Namun bukan berarti melupakan semuanya. Ada pengalaman
indah, ada kenangan manis harus kubawa dalam hidupku selanjutnya. Yang lama dan
merugikanku akan kutitip di sini, di tempat aku bermenung persis di kamar No 7.
Malam ini tepat pukul 22.00 menjadi saksi bahwa di kamar No 7 ini kutitipkan
segala beban dosaku. Aku terlalu capeh memikulnya, aku sudah lelah membawanya.
Aku ingin hidup bebas bersama burung merpati yang setia menunggu tuannya. Entah
pengalaman apa yang akan kulalui, perjuangan hidup seperti apa yang akan
kujalani semuanya tergantung pada DIA yang memanggilku. Aku siap menerimanya.
Para sahabatku semuanya tentu bertanya: apa
maksud semua ini? ada apa dengan diri seorang “Libert”? Adakah sesuatu dibalik
ini semua? Jawabannya ada pada tanggal 23 Juli. Anda pasti tahu si “Libert”
kecil pada 29 tahun yang lalu telah
lahir dari Rahim seorang ibu yang baik dan penuh perhatian. Ibu yang penuh
belas kasihan, Ibu yang sangat menyayangi anak-anaknya, termasuk seorang Libert
yang saat ini tidak berada bersama sang Ibu. Sang Ibu yang masih sehat dan
segar itu pasti tahu dan sadar bahwa hari ini salah satu puteranya dikaruniai
usia yang ke-29. Begitupun sang Ayah. Sang Ayah yang penuh cinta, rendah hati,
bersahaja dan pekerja keras tentu tahu dan merasa bahwa hari ini Puteranya yang
dipanggil Br. Libert, CSA itu boleh merayakan hari ulang tahunnya yang ke-29.
Aku tidak tahu harus berbuat apa. Anda, para
sahabatku pasti tahu apa yang harus saya lakukan, sebab kalianpun pasti pernah
merasakan seperti yang kurasakan saat ini. Aku bahagia dan penuh rasa syukur. Kebaikan
dan dukungan dari kalian, secara khusus kakak-kakaku dan anggota
komunitas/Kongregasiku adalah wujud cinta Tuhan kepadaku. Saya boleh merayakan
ulang tahun ini bukan karena kekuatanku semata, tetapi sungguh merupakan rahmat
Tuhan yang selalu melimpah atas diriku. Cinta dan perhatian-Nya telah tumbuh
dalam diriku selama 28 tahun yang lalu. Semoga cinta dan perhatian yang sama
tetap ada dan selalu bersamaku di hari-hari yang akan datang, terlebih di
usiaku yang ke-29 ini.
Kehadiran dan cinta-Nya tak cukup kuungkapkan dengan kata-kata. Saya ingin
berpasrah, terserah Tuhan mau dibawa kemana hidupku atau mau diapakan diriku.
Yang jelas aku masih SETIA dan MENCINTAI-NYA. Tugasku belum selesai aku masih
ingin hidup 1000 tahun lagi. Aku sama sekali belum memberikan apa-apa kepada CSA.
Hanya diriku yang kupersembahkan, tak ada yang lain.
Di usiaku yang ke-29 ini, usia yang tidak
mudah untuk dilewati apalagi dalam ilmu Psikologi dikatakan usia yang sedang
mengevaluasi hidup dan tujuan hidupnya serta saat-saat kritis juga. Benarkah demikian?
Aku juga belum tahu. Yang terpenting saya mau dan siap menyadarinya. Saya juga
menyadari bahwa di masa-masa yang akan datang banyak persoalan dan tantangan
yang harus saya hadapi, baik dari luar maupun dari dalam diri. Saya tidak mampu
berjalan sendirian. Saya adalah manusia yang punya kekurangan tetapi akan
dilengkapi dan disempurnakan oleh DIA yang memanggilku.
Hari ini merupakan hari yang penuh makna
bagiku dan tak kan pernah kulupakan. Bersama gelapnya malam dinginnya suasana
malam itu diiringi suara binatang kecil menghiasi perasaanku yang penuh syukur.
Hanya dengan rasa syukur kupanjatkan kepada Tuhan yang memanggilku. Segala
hidupku kuserahkan kepada Tuhan. Aku ingin berpasrah dan siap sedia bila suatu
saat aku kembali kepada-Nya. Inilah doa, inilah ungkapan hati, hanya dengan
itulah aku bermohon: “ TUHAN…. HANYA ENGKAULAH ANDALANKU, KUSERAHKAN DIRIKU
PADAMU”.
(Kaliurang,
Wisma Maya KM 07-22.07.12. Pkl. 22.45)
20.15
Libert CSA
ADA
PERHATIAN ADA CINTA MENJADI
SEMAKIN SETIA
Sebuah pengalaman iman – Live in COR UNUM, 23-25 Maret 2012
Br. Libert, CSA
Long
week end kali ini memberi harapan dan nilai baru bagiku dan bagi teman-temanku.
Cor Unum yang adalah sebuah
persekutuan dengan semangat hati kudus menjadi
sebuah jalan dalam menemukan sang sumber cinta. Tiga hari dan dua malam kami
anggota Live in ingin merasakan anugerah Tuhan lewat umat Allah yang berada di
Paroki Boro, secara khusus umat Allah di stasi Samigaluh. Banyak pengalaman dan
peristiwa yang menggugah hatiku untuk semakin memuliakan-Nya. Kami sadar bahwa
selama ini kami hanya ingin hidup di tengah situasi yang ramai, nyaman dan
tidak mengenal lagi apa artinya hidup sosial dan kemasyarakatan. Lingkungan
biara kadang membuat kami jenuh, malas dan kurang bersosialisasi, kerap menjadi
sebuah batu sandungan. Dengan kesadaran ini, COR UNUM mengadakan suatu kegiatan
yang lazim diadakan oleh para religius lainnya, yakni mengadakan live in di
suatu tempat yang dirasa terisolir dalam artian tempat, tetapi kehidupan
kemasyarakatan dan kehidupan doa patut di acungi jempol.
Para
religius dalam kehidupan doa kadang hanya karena aturan biara/komunitas yang
berlaku tanpa dibarengi dengan kekedalaman Hati. Doa kadang sebagai kewajiban,
bukan sebagai kebutuhan. Dikatakan berdoa, apabila ada perwujudan dari doa itu
sendiri. Entah melalui karya yang diembankan setiap orang, entah lewat
kehidupan bermasyarakat yang rukun, damai dan sejahtera maupun melalui
kegiatan-kegiatan lain yang menunjukan ada nilai imannya. ” Iman tanpa
perbuatan adalah mati”. Pengalaman tiga hari dan dua malam di Stasi
Samigaluh-Kulon progo ini, sungguh saya menemukan cinta dan kedamaian. Doa
sungguh menjadi sebuah kebutuhan, bukan sekedar kewajiban. Nyatanya umat disini
begitu rukun, damai dan sejahtera. Mereka juga tidak memandang SARA. Sungguh
tempat yang sejuk dan damai ini memberi harapan baru untuk semakin mencintai
dan setia dengan apa yang menjadi pilihan hidupku.
Bersama
sekeluarga yang taat pada ajaran Khatolik, saya semakin diteguhkan dan tegar
dalam menjalani hari-hari hidup kedepannya. Saya disadarkan apa arti sebuah
“kehidupan”. Ketidak pastian hidup sehari-hati akhirnya menemukan titik terang
yang menunjukan bahwa sesungguhnya kehidupan itu ada pada diri pribadi yang
menjalaninya. Hidup itu baru akan
berarti bila setiap orang mampu memaknai setiap peristiwa hidup, apapun
tantangan dan cobaannya. Adanya tantangan dan cobaan justru karena ingin
mengasah kehidupan itu sendiri. Apakah hidupku berarti bagi yang lain, tergantung
motivasi yang muncul dari dalam diri, bukan dari luar diri. Keterbukaan dan
kejujuran juga menjadi sebuah nilai yang sangat berarti dalam menentukan indah
dan bahagianya hidup itu sendiri. Semakin kita terbuka dengan situasi dimana
kita berada, semakin kita diterima dan dihormati oleh
situasi dimana kita tinggal. Hal
demikianlah yang saya rasakan dan praktekan selama menjalani live in di
Samigaluh ini. Stasi Samigaluh yang dihiasi dengan indahnya gunung Widosari
telah mengajarkanku arti sebuah kerendahan hati dan semakin mencintai
panggilan. Kerinduan akan sang sumber CINTA mulai terobati.
Sang
sumber cinta yang adalah Tuhan sendiri telah menunjukan jalan bagiku. Jalan
yang saya tempuh selama live in di Samigaluh tentu tidak sebanding dengan jalan
yang dilalui-Nya menuju puncak Kalvari. Terlalu mudah bagiku untuk dilaluinya,
apalagi dengan kendaraan bermotor yang tidak lazim dipakai pada Zaman-Nya.
Sungguh berjalan tanpa beralaskan kaki. Tuhan menuju ke Puncak terjanji hanya
beralaskan CINTA dan KORBAN bagi dunia yang menantinya. Cinta dan Korban adalah
dua kata yang harus dimiliki oleh setiap pribadi yang percaya pada sang sumber
CINTA itu sendiri, sebab DIA sendiri pun telah memperoleh Cinta dan pengorbanan
itu. Satu minggu lagi, bahkan setiap saat kita selalu menemukan Cinta itu,
lewat tugas dan aktifitas kita setiap hari.
Kebersamaan
dengan umat di Samigaluh, terlebih umat di Lingkungan Carolus, secara khusus
pula di rumah Bapak Kamijo sekeluarga, sungguh saya merasakan CINTA itu. Cinta
itu wujud dalam karya dan pelayanan yang nyata, bukan OMDO (omong doang). Saya
merasakan ada perhatian, berkat dan dukungan dari keluarga disana. Perhatian
dan berkat itulah yang akan membuat hidup ini semakin berarti. Panggilan yang
khusus ini rasanya semakin kuat untuk menjalaninya. Sang sumber CINTA telah
menghadirkan di hatiku sebuah rahmat lewat keluarga yang saya tempati selama
live in.
Pengalaman
iman dan tantangan dalam mewujudkan iman dari keluarga ini sungguh menjadi
bagian untuk saya renungkan dan saya refleksikan selalu, bahwa hidup itu memang
sebuah misteri. Kita/saya tentu tidak mengerti isi hati Tuhan. Manusia boleh
memilih tetapi Tuhan yang menentukan. Cara Tuhan menyapa manusia kadang
membingungkan. Membingungkan bagi mereka yang kurang beriman pada-Nya. Kalaupun
beriman mungkin karena terpaksa, bukan dari dalam hati yang tulus. “Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia
tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah”. Pesan Tuhan ini kiranya menjadi sebuah
gambaran bagi orang yang sungguh percaya pada-Nya.
Pengalaman
live ini di paroki Boro ini menjadi bagian untuk semakin mantap memandang dan
menyambut masa depan yang cerah. Ada cinta karena ada damai, karena ada damai
maka terbentuklah cinta. Cinta akhirnya butuh pengorbanan, sehingga terciptalah
kedamaian hati dan semakin memuliakan DIA yang mengutusku. Sebab Dialah sang
sumber CINTA itu. “ ada perhatian ada cinta menjadi semakin setia”. Terima
kasih Tuhanku…I shall always Trust and love You.
Langganan:
Komentar (Atom)
RSS Feed
Twitter




